Indonesia adalah negara yang sangat luas,
terdiri dari banyak pulau, suku bangsa, agama dan budaya. Dari hal itu semua
menjadi seorang pemimpin di negara yang banyak sekali perbedaan ini tidaklah
mudah. Tetapi Indonesia memiliki satu semboyan sebagai alat pemersatu bangsa
yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi
kita tetap satu. Namun, akhir-akhir ini mengapa negara tercinta kita ini
dilanda konflik yang begitu besar hanya karena sebuah perbedaan pilihan?
Bukankah perbedaan dalam suatu pilihan itu sudah wajar? Dan mengapa kita harus
memilih jika tidak ingin ada perbedaan?
Aliran-aliran garis keras yang mendoktrin
orang-orang awam untuk melakukan pemberontakan merupakan salah satu pemicu
konflik di negara ini. Mereka perlahan masuk ke dalam organisasi-organisasi
masyarakat di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah. Melalui
ormas-ormas tersebut aliran garis keras ingin membentuk sebuah negara islam,
mereka menjadikan agama dan penegakan syari’at sebagai tujuan. Tujuan umat
Islam yang sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, agama dan
syari’at hanyalah jalan untuk meraih tujuan.
Negara Islam hanyalah sebuah ilusi, karena
dalam islam tidak mengajarkan untuk membentuk Negara Islam. Indonesia bukanlah
negara Islam tetapi Indonesia memiliki agama yang beragam. Tujuan mereka
membentuk negara Islam tetapi cara mereka sama sekali tidak islami.
Memberontak, membunuh dan membuat kerusuhan apakah itu yang disebut dengan
Islam. Bagaimanakah masa depan Islam di Indonesia? Dan Bagaimanakah cara kita
menghadapi musuh-musuh dalam selimut?
Dalam buku Ilusi Negara Islam-Ekspansi Gerakan
Islam Transnasional di Indonesia akan membahas semua pertanyaan-pertanyaan di
atas. Buku ini merupakan karya dari KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal
dengan sebutan Gus Dur, buku ini diterbitkan pada tahun 2009. Namun dalam
makalah ini
kita akan membahas tentang masa depan islam di Indonesia
dan musuh dalam selimut.