Rabu, 08 Januari 2020

ILUSI NEGARA ISLAM


Indonesia adalah negara yang sangat luas, terdiri dari banyak pulau, suku bangsa, agama dan budaya. Dari hal itu semua menjadi seorang pemimpin di negara yang banyak sekali perbedaan ini tidaklah mudah. Tetapi Indonesia memiliki satu semboyan sebagai alat pemersatu bangsa yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi kita tetap satu. Namun, akhir-akhir ini mengapa negara tercinta kita ini dilanda konflik yang begitu besar hanya karena sebuah perbedaan pilihan? Bukankah perbedaan dalam suatu pilihan itu sudah wajar? Dan mengapa kita harus memilih jika tidak ingin ada perbedaan?
Aliran-aliran garis keras yang mendoktrin orang-orang awam untuk melakukan pemberontakan merupakan salah satu pemicu konflik di negara ini. Mereka perlahan masuk ke dalam organisasi-organisasi masyarakat di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah. Melalui ormas-ormas tersebut aliran garis keras ingin membentuk sebuah negara islam, mereka menjadikan agama dan penegakan syari’at sebagai tujuan. Tujuan umat Islam yang sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, agama dan syari’at hanyalah jalan untuk meraih tujuan.
Negara Islam hanyalah sebuah ilusi, karena dalam islam tidak mengajarkan untuk membentuk Negara Islam. Indonesia bukanlah negara Islam tetapi Indonesia memiliki agama yang beragam. Tujuan mereka membentuk negara Islam tetapi cara mereka sama sekali tidak islami. Memberontak, membunuh dan membuat kerusuhan apakah itu yang disebut dengan Islam. Bagaimanakah masa depan Islam di Indonesia? Dan Bagaimanakah cara kita menghadapi musuh-musuh dalam selimut?
Dalam buku Ilusi Negara Islam-Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia akan membahas semua pertanyaan-pertanyaan di atas. Buku ini merupakan karya dari KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur, buku ini diterbitkan pada tahun 2009. Namun dalam makalah ini

kita akan membahas tentang masa depan islam di Indonesia dan musuh dalam selimut.

MASA DEPAN ISLAM DI INDONESIA (Ilusi Negara Islam)


Di Indonesia mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, agama yang memberikan rahmat bagi seluruhnya tidak hanya untuk pemeluknya saja. Di Indonesia banyak pemeluk agama lain selain Islam, lalu timbullah suatu pertanyaan bagaimanakah masa depan Islam di Indonesia dengan adanya perbedaan agama dalam satu negara? Dan apakah Islam akan baik-baik saja?
Sekarang ini Indonesia sedang diadu domba. Banyak oknum yang tidak bertanggung jawab yang memiliki tujuan tertentu namun mengatas namakan agama, mengatas namakan Islam. Padahal perbuatan yang dilakukan oknum tersebut sangat melenceng dari ajaran agama Islam. Indonesia digadang-gadang akan dibentuk menjadi negara Islam yang bersistem khilafah. Negara Islam adalah sesuatu yang tidak konseptual, dan tidak diikuti oleh mayoritas kaum muslimin. Ia pun hanya dipikirkan oleh sejumlah orang pemimpin, yang terlalu memandang Islam dari sudut institusionalnya belaka.[1] Orang-orang yang tidak setuju dengan sistem tersebut dianggap kafir, kemudian terjadilah aksi teror, bom bunuh diri, pemerontakan dan masih banyak lagi aksi-aksi yang menimbulkan pertumpahan darah.
Islam itu gampang tetapi jangan digampangkan. Islam berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam buku Ilusi negara Islam terdapat tiga teori fundamentalisme yang dikemukakan. Yang pertama teori ini menyatakan kegagalan umat Islam menghadapi arus modernitas yang dinilai telah sangat menyudutkan Islam.[2] Atas kegagalan tersebut golongan fundamentalis mencari dalil-dalil yang dijadikan dasar atas pemikiran mereka, namun hanya diambil secara tekstual tidak dipahami secara mendalam apa yang dimaksud dalam dalil

tersebut. Sehingga menimbulkan suatu konflik apabila terdapat suatu golongan penentang yang tidak setuju dengan cara-cara mereka. Golongan penentang ini tidak kurang kritikalnya menghadapi arus modern ini, tetapi cara yang ditempuh dikawal oleh kekuatan nalar dan pertimbangan yang jernih, sekalipun tidak selalu berhasil.
Teori kedua menyatakan bahwa membesarnya golongan fundamentalisme di berbagai negara muslim didorong oleh rasa kesetiakawanan terhadap nasib yang menimpa saudara-saudaranya di Palestina, Kashmir, Afghanistan dan Iraq. Rasa solider pasti dimiliki setiap muslim, namun cara penyampaiannya yang berbeda. Sebisa mungkin teteap menjaga perdamaian dan menghindarkan dari konflik-konflik serta kekerasan.
Teori ketiga, khusus untuk Indonesia, maraknya fundamentalisme di Nusantara lebih disebabkan oleh kegagalan negara mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya keadilan dan terciptanya kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Namun karena pengetahuan golongan fundamentalis tentang peta sosiologis Indonesia yang memang tidak sederhana, maka mereka menempuh jalan pintas bagi tegaknya keadilan, yaitu dengan cara melaksanakan syari’at Islam melalui kekuasaan.
Cara-cara yang dilakukan oleh golongan fundamentalis ini tidak akan mendekatkan negri ini kepada cita-cita kemerdekaan. Tetapi malah akan memutus cita-cita tersebut di tengah jalan.


[1] KH. Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita Agama Masyarakat Negara Demokrasi,(Jakarta: The Wahid Institute, 2006), Hlm.85.
[2] KH. Abdurrahman Wahid, Ilusi Negara Islam-Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia, (Jakarta: PT. Desantara Utama Media, 2009), Hlm.8.

MUSUH DALAM SELIMUT ( Ilusi Negara Islam)


Islam mewujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi. Sabda Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat “Raja’na min jihad al asghar ila jihad al akbar” (Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar). Sabda beliau tersebut sepulang dari perang Badr. Kemudian sahabat bertanya “Perang apalagi yang lebih dahsyat ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Perang melawan hawa nafsu”. Para sahabat terdiam, karena betapa sulitnya perang melawan hawa nafsu bagaikan musuh dalam selimut, menjadi bagian tak terpisahkan dari diri setiap orang.
Hawa nafsu adalah suatu kekuatan yang selalu menyimpan potensi destruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah, dan tidak pernah tenang.[1] Dalam buku Ilusi Negara Islam yang dimaksud dengan musuh dalam selimut yang sedang dihadapi umat Islam di Indonesia adalah musuh yang melakukan serangan dalam negara sendiri bukan serangan dari negara lain. Musuh tersebut melakukan pendekatan-pendekatan yang awalnya berkedok menjalin pertemanan namun pada nyatanya menusuk dari belakang.
Dalam buku Ilusi Negara Islam disebutkan secara gamblang bahwa musuh tersebut adalah aliran garis keras yang disebut Ikhwanul Muslimin atau Wahabi, selain itu ada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ada pula partai politik yang mengatasnamakan keadilan yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sasaran aliran garis keras tersebut adalah NU dan Muhammadiyah karena NU dan Muhammadiyah menjadi ormas Islam yang terkuat sampai saat ini, yang senantiasa menjaga perdamaian dalam Islam. Kelompok garis keras telah berhasil mengubah wajah Islam Indonesia menjadi agresif, bringas, intoleran dan penuh kebencian. Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon memperjuangkan dan membela Islam, dengan dalih tarbiyah dan amar ma’ruf nahy munkar.
Kelompok garis keras secara perlahan menyusup ke dalam ormas NU dan Muhammadiyah dengan cara menguasai masjid-masjid dan jamaahnya. Awalnya ada sekelompok pemuda menawarkan diri secara sukarela untuk membersihkan masjid-masjid, mereka melakukan hal itu secara berulang-ulang sehingga takmir masjid memberikan kesempatan kepada mereka untuk adzan dan kemudian masuk dalam kepengurusan takmir masjid. Setelah itu posisinya semakin kuat dan mereka berhasil menguasai masjid beserta para jamaah.
Dari kasus tersebut sebagai generasi muda kita harus lebih berhati-hati dalam menerima suatu ajaran baru agar tidak terjerumus ke dalam aliran yang sesat. Bahkan partai politik juga ikut andil dalam kelompok garis keras, parpol tersebut adalah PKS. PKS mencari masjid-masjid yang hendak direnovasi dan mereka akan menanggung semua biaya, mereka mengaku mendapat dana dari Arab Saudi, masyarakat hanya perlu mendukung partai tersebut dalam setiap pemilihan. Ini merupakan cara-cara yang tidak sehat yang mengatas namakan Islam hanya untuk kepentingan kekuasaan dan kepentingan politik saja.
Alasan utama melawan garis keras adalah untuk mengembalikan kehormatan dan kemuliaan islam yang telah mereka nodai dan untuk menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Orang yang paling mengerti Islam, penuh kebencian kepada makhluk Allah yang tidak sejalan dengan mereka, serta merasa bahwa dirinya paling benar pasti kata-kata dan perbuatannya tidak akan membawa kita kepada Tuhan.
Garis keras ingin membawa kita ke dalam paham mereka yang keras dan kaku. Jiwa-jiwa yang resah akan terus mendorong bangsa kita ke jurang kehancuran sampai mereka berkuasa atau kitalah yang menghentikannya. Karena mereka dikuasai oleh hawa nafsu yang harus kita lawan, memang tidaklah mudah namun itulah jihad yang sesungguhnya.


[1]Ibid., Hlm.13.