Rabu, 08 Januari 2020

MUSUH DALAM SELIMUT ( Ilusi Negara Islam)


Islam mewujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi. Sabda Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat “Raja’na min jihad al asghar ila jihad al akbar” (Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar). Sabda beliau tersebut sepulang dari perang Badr. Kemudian sahabat bertanya “Perang apalagi yang lebih dahsyat ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Perang melawan hawa nafsu”. Para sahabat terdiam, karena betapa sulitnya perang melawan hawa nafsu bagaikan musuh dalam selimut, menjadi bagian tak terpisahkan dari diri setiap orang.
Hawa nafsu adalah suatu kekuatan yang selalu menyimpan potensi destruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah, dan tidak pernah tenang.[1] Dalam buku Ilusi Negara Islam yang dimaksud dengan musuh dalam selimut yang sedang dihadapi umat Islam di Indonesia adalah musuh yang melakukan serangan dalam negara sendiri bukan serangan dari negara lain. Musuh tersebut melakukan pendekatan-pendekatan yang awalnya berkedok menjalin pertemanan namun pada nyatanya menusuk dari belakang.
Dalam buku Ilusi Negara Islam disebutkan secara gamblang bahwa musuh tersebut adalah aliran garis keras yang disebut Ikhwanul Muslimin atau Wahabi, selain itu ada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ada pula partai politik yang mengatasnamakan keadilan yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sasaran aliran garis keras tersebut adalah NU dan Muhammadiyah karena NU dan Muhammadiyah menjadi ormas Islam yang terkuat sampai saat ini, yang senantiasa menjaga perdamaian dalam Islam. Kelompok garis keras telah berhasil mengubah wajah Islam Indonesia menjadi agresif, bringas, intoleran dan penuh kebencian. Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon memperjuangkan dan membela Islam, dengan dalih tarbiyah dan amar ma’ruf nahy munkar.
Kelompok garis keras secara perlahan menyusup ke dalam ormas NU dan Muhammadiyah dengan cara menguasai masjid-masjid dan jamaahnya. Awalnya ada sekelompok pemuda menawarkan diri secara sukarela untuk membersihkan masjid-masjid, mereka melakukan hal itu secara berulang-ulang sehingga takmir masjid memberikan kesempatan kepada mereka untuk adzan dan kemudian masuk dalam kepengurusan takmir masjid. Setelah itu posisinya semakin kuat dan mereka berhasil menguasai masjid beserta para jamaah.
Dari kasus tersebut sebagai generasi muda kita harus lebih berhati-hati dalam menerima suatu ajaran baru agar tidak terjerumus ke dalam aliran yang sesat. Bahkan partai politik juga ikut andil dalam kelompok garis keras, parpol tersebut adalah PKS. PKS mencari masjid-masjid yang hendak direnovasi dan mereka akan menanggung semua biaya, mereka mengaku mendapat dana dari Arab Saudi, masyarakat hanya perlu mendukung partai tersebut dalam setiap pemilihan. Ini merupakan cara-cara yang tidak sehat yang mengatas namakan Islam hanya untuk kepentingan kekuasaan dan kepentingan politik saja.
Alasan utama melawan garis keras adalah untuk mengembalikan kehormatan dan kemuliaan islam yang telah mereka nodai dan untuk menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Orang yang paling mengerti Islam, penuh kebencian kepada makhluk Allah yang tidak sejalan dengan mereka, serta merasa bahwa dirinya paling benar pasti kata-kata dan perbuatannya tidak akan membawa kita kepada Tuhan.
Garis keras ingin membawa kita ke dalam paham mereka yang keras dan kaku. Jiwa-jiwa yang resah akan terus mendorong bangsa kita ke jurang kehancuran sampai mereka berkuasa atau kitalah yang menghentikannya. Karena mereka dikuasai oleh hawa nafsu yang harus kita lawan, memang tidaklah mudah namun itulah jihad yang sesungguhnya.


[1]Ibid., Hlm.13.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar