Islam mewujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi.
Sabda Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat “Raja’na min jihad al asghar ila
jihad al akbar” (Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar). Sabda
beliau tersebut sepulang dari perang Badr. Kemudian sahabat bertanya “Perang
apalagi yang lebih dahsyat ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “Perang melawan hawa
nafsu”. Para sahabat terdiam, karena betapa sulitnya perang melawan hawa nafsu
bagaikan musuh dalam selimut, menjadi bagian tak terpisahkan dari diri setiap
orang.
Hawa nafsu adalah suatu kekuatan yang selalu menyimpan
potensi destruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah, dan tidak pernah
tenang.[1] Dalam
buku Ilusi Negara Islam yang dimaksud dengan musuh dalam selimut yang sedang
dihadapi umat Islam di Indonesia adalah musuh yang melakukan serangan dalam
negara sendiri bukan serangan dari negara lain. Musuh tersebut melakukan
pendekatan-pendekatan yang awalnya berkedok menjalin pertemanan namun pada
nyatanya menusuk dari belakang.
Dalam buku Ilusi Negara Islam disebutkan secara gamblang
bahwa musuh tersebut adalah aliran garis keras yang disebut Ikhwanul Muslimin
atau Wahabi, selain itu ada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ada pula partai
politik yang mengatasnamakan keadilan yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Sasaran aliran garis keras tersebut adalah NU dan Muhammadiyah karena NU dan
Muhammadiyah menjadi ormas Islam yang terkuat sampai saat ini, yang senantiasa
menjaga perdamaian dalam Islam. Kelompok garis keras telah berhasil mengubah
wajah Islam Indonesia menjadi agresif, bringas, intoleran dan penuh kebencian.
Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon
memperjuangkan dan membela Islam, dengan dalih tarbiyah dan amar ma’ruf nahy
munkar.
Kelompok garis keras secara perlahan menyusup ke dalam
ormas NU dan Muhammadiyah dengan cara menguasai masjid-masjid dan jamaahnya.
Awalnya ada sekelompok pemuda menawarkan diri secara sukarela untuk
membersihkan masjid-masjid, mereka melakukan hal itu secara berulang-ulang
sehingga takmir masjid memberikan kesempatan kepada mereka untuk adzan dan
kemudian masuk dalam kepengurusan takmir masjid. Setelah itu posisinya semakin
kuat dan mereka berhasil menguasai masjid beserta para jamaah.
Dari kasus tersebut sebagai generasi muda kita harus
lebih berhati-hati dalam menerima suatu ajaran baru agar tidak terjerumus ke
dalam aliran yang sesat. Bahkan partai politik juga ikut andil dalam kelompok
garis keras, parpol tersebut adalah PKS. PKS mencari masjid-masjid yang hendak
direnovasi dan mereka akan menanggung semua biaya, mereka mengaku mendapat dana
dari Arab Saudi, masyarakat hanya perlu mendukung partai tersebut dalam setiap
pemilihan. Ini merupakan cara-cara yang tidak sehat yang mengatas namakan Islam
hanya untuk kepentingan kekuasaan dan kepentingan politik saja.
Alasan utama melawan garis keras adalah untuk
mengembalikan kehormatan dan kemuliaan islam yang telah mereka nodai dan untuk
menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Orang yang paling mengerti Islam, penuh
kebencian kepada makhluk Allah yang tidak sejalan dengan mereka, serta merasa
bahwa dirinya paling benar pasti kata-kata dan perbuatannya tidak akan membawa
kita kepada Tuhan.
Garis keras ingin membawa kita ke dalam paham mereka yang
keras dan kaku. Jiwa-jiwa yang resah akan terus mendorong bangsa kita ke jurang
kehancuran sampai mereka berkuasa atau kitalah yang menghentikannya. Karena
mereka dikuasai oleh hawa nafsu yang harus kita lawan, memang tidaklah mudah
namun itulah jihad yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar